Mendidik Anak Mencintai Sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Mendidik Anak Mencintai Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 14 Sya’ban 1447 H / 2 Februari 2026 M.
Kajian Tentang Mendidik Anak Mencintai Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Para sahabat adalah generasi yang menyimak dengan penuh perhatian ilmu yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga memahami, menghafalkan, mengamalkan, hingga mengajarkannya kepada generasi tabi’in. Estafet dakwah ini terus berlanjut dari tabiin ke tabiut tabi’in, hingga sampai pada tahun 2026 atau 1447 Hijriah sekarang.
Jasa para sahabat sangat besar karena mereka memberikan contoh nyata bahwa kesalehan bukan sekadar teori yang tertulis di dalam buku atau sesuatu yang mustahil untuk digapai. Mereka mempraktekkan teori akhlak mulia, aqidah yang benar, dan ibadah yang tekun di bawah bimbingan langsung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, menanamkan kecintaan kepada para sahabat dalam diri anak-anak adalah langkah penguatan aqidah dan akhlak yang sangat penting.
Langkah Praktis Menanamkan Cinta Kepada Sahabat
Terdapat tiga langkah praktis untuk menanamkan rasa cinta tersebut kepada anak-anak.
1. Mengenalkan Siapa Sahabat
Langkah pertama adalah mengenalkan siapa sebenarnya sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Penting bagi orang tua untuk menjelaskan definisi sahabat yang dimaksud bukan sembarang sahabat atau teman biasa, melainkan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang bertemu dengan beliau secara langsung di dunia, bukan melalui mimpi. Pertemuan tersebut dapat terjadi di majelis ilmu, di pasar, di padang pasir, maupun di rumah beliau.
Istilah “bertemu” digunakan sebagai pengganti “melihat” untuk mencakup para sahabat yang memiliki keterbatasan penglihatan, seperti Ibnu Ummi Maktum. Beliau adalah seorang tuna netra yang menjadi sahabat karena bertemu dan berinteraksi dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meskipun tidak dapat melihat beliau. Seseorang yang bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada masa sekarang tidak dapat menyandang status sebagai sahabat karena tidak adanya pertemuan langsung secara fisik.
Status sahabat tidak hanya ditentukan oleh pertemuan fisik, tetapi juga oleh keimanan. Hal ini membedakan para sahabat dengan tokoh-tokoh seperti Abu Lahab atau Abu Jahal. Meskipun mereka bertemu dan berinteraksi dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara intensif, bahkan Abu Lahab merupakan paman beliau, mereka tidak dikategorikan sebagai sahabat karena tidak beriman kepada risalah yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Syarat mutlak dalam definisi sahabat adalah wafat dalam keadaan beriman. Apabila seseorang pernah bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan beriman namun kemudian murtad dan meninggal dalam kemurtadannya, maka status sahabatnya gugur. Sejarah mencatat adanya seseorang yang pernah menjadi penulis wahyu Al-Qur’an namun kemudian murtad dan memeluk agama Nasrani. Orang tersebut bahkan menyebarkan fitnah bahwa ia telah mengubah isi Al-Qur’an. Ia akhirnya mati dalam keadaan murtad.
Kisah tragis penyimpangan aqidah ini menjadi pelajaran besar. Ketika orang yang murtad tersebut meninggal dunia, jasadnya berkali-kali dikeluarkan oleh bumi. Meskipun teman-temannya sesama pemeluk agamanya telah menggali kuburan yang lebih dalam, bumi tetap memuntahkan jasadnya keesokan harinya. Fenomena jasad yang ditolak oleh bumi tersebut menunjukkan bahwa bukan manusia yang melakukannya, melainkan bumi yang patuh pada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk tidak menerima jasad orang yang telah menghina Al-Qur’an dan mengkhianati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kisah tragis mengenai mantan penulis wahyu yang murtad tersebut terus berlanjut. Teman-temannya sesama pemeluk agama Nasrani berusaha menguburkan jasadnya kembali. Jika umumnya sebuah makam digali sedalam dua meter, mereka menambah kedalamannya menjadi dua kali lipat, yakni sekitar empat meter. Tindakan ini dilakukan dengan asumsi agar para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dapat menggali dan mengeluarkan jasad tersebut.
Namun, keesokan harinya jasad itu kembali dimuntahkan oleh bumi. Mereka kembali menuduh para sahabat sebagai pelakunya dan menggali makam yang jauh lebih dalam lagi, hingga mencapai enam meter. Kenyataannya, para sahabat tidak melakukan hal tersebut. Akhirnya, setelah berkali-kali dimuntahkan, orang-orang itu menyadari bahwa bumi sendirilah yang tidak berkenan menerima jasad pengkhianat tersebut. Mereka pun menyerah dan hanya menimbun jasad itu dengan tanah seadanya agar baunya tidak menyebar.
Definisi sahabat adalah orang yang bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara langsung, beriman kepada beliau, dan wafat dalam keadaan beriman. Mengenai jumlah mereka, Imam Abu Zur’ah Ar-Razi (seorang ulama yang wafat tahun 264 Hijriah) menyebutkan bahwa jumlah sahabat mencapai sekitar 114.000 orang.
Di antara sekian banyak sahabat tersebut, terdapat tingkatan kemuliaan. Sosok yang paling istimewa dan memiliki iman tertinggi adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau adalah mertua Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sekaligus orang pertama yang masuk Islam. Perjuangannya membela Islam sangat besar, baik melalui tenaga, pikiran, harta, hingga nyawa. Setelah beliau, urutan kemuliaan berikutnya adalah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu, dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu.
Menanamkan Keteladanan Sahabat Pada Anak
Mengenalkan para sahabat kepada anak-anak tidak cukup hanya dengan menyebutkan nama-nama mereka. Orang tua perlu menceritakan kisah kepahlawanan, keberanian, kejujuran, serta kepatuhan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bahasa yang mudah dicerna. Beberapa keteladanan yang dapat diceritakan antara lain:
- Keperkasaan Ali bin Abi Thalib: Beliau mampu mengangkat sendiri pintu benteng Khaibar yang sangat berat saat penaklukan benteng Yahudi tersebut.
- Kedermawanan Abdurrahman bin Auf: Beliau sering kali menginfakkan harta dalam jumlah yang sangat besar demi kepentingan dakwah.
- Kejujuran Abu Bakar Ash-Shiddiq: Integritas beliau sangat tinggi hingga mendapatkan gelar Ash-Shiddiq (yang terpercaya/membenarkan).
Penyampaian kisah-kisah ini hendaknya dihubungkan dengan kejadian sehari-hari. Sebagai contoh, jika seorang anak merasa sedih karena dirundung (bully) oleh temannya, orang tua dapat menceritakan keteguhan Bilal bin Rabah. Bilal tidak hanya dirundung, tetapi disiksa di bawah terik matahari dengan batu besar di atas perutnya agar ia meninggalkan Islam. Namun, Bilal tetap bertahan dengan keimanannya.
Melalui pendekatan ini, anak-anak akan memahami bahwa ujian yang mereka hadapi tidak sebanding dengan perjuangan para pendahulu. Dengan demikian, para sahabat akan menjadi teladan nyata dalam membentuk karakter anak yang tangguh dan beriman.
Dan para sahabat adalah murid-murid terbaik yang telah berhasil menerapkan keteladanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut dalam kehidupan mereka.
Mengganti Figur Khayalan Dengan Pahlawan Nyata
Anak-anak pada masa kini sering kali disuguhi figur pahlawan super (superhero) yang hanya ada dalam film dan tidak memiliki wujud nyata, seperti Superman, Batman, Ultraman, hingga Spider-Man. Karakter-karakter tersebut hanyalah khayalan dan ilusi, seperti gambaran orang yang bisa memanjat gedung dengan menempel pada dinding. Sebagai orang tua, hendaknya kita mengenalkan tokoh-tokoh nyata yang keberaniannya terukir dalam sejarah, seperti Az-Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, atau Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Mereka adalah pahlawan riil yang benar-benar ada dalam dunia nyata.
Langkah pertama dalam pendidikan ini adalah mengenalkan definisi sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, nama-nama mereka, serta kisah perjuangannya yang kemudian dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari anak.
2. Keutamaan Dan Jasa Para Sahabat Sebagai Manusia Pilihan
Langkah kedua adalah menjelaskan keutamaan dan jasa para sahabat kepada anak. Penting untuk menekankan bahwa para sahabat merupakan manusia pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keberadaan mereka di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukanlah sebuah kebetulan, melainkan takdir Allah ‘Azza wa Jalla karena Dia mengetahui bahwa mereka memiliki hati yang luar biasa.
Hal ini selaras dengan atsar dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu yang menjelaskan proses terpilihnya para sahabat:
“Sesungguhnya Allah melihat ke dalam hati para hamba, maka Dia mendapati hati Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sebaik-baik hati hamba-Nya, maka Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya. Kemudian Allah melihat ke dalam hati para hamba setelah hati Muhammad, maka Dia mendapati hati para sahabatnya adalah sebaik-baik hati para hamba setelahnya, maka Allah menjadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud ath-Thayalisi)
Allah ‘Azza wa Jalla menugaskan para sahabat untuk menjadi pembela ajaran Islam dan pendamping Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun ada sebagian orang yang berandai-andai ingin hidup di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, perlu disadari bahwa menjadi sahabat di masa itu merupakan ujian yang sangat berat. Belum tentu seseorang mampu beriman sebagaimana Abu Bakar atau Umar jika dihadapkan pada situasi sesulit zaman tersebut.
Pengorbanan Fisik Dan Jiwa Para Sahabat
Perjuangan para sahabat dalam membela agama tidak dapat disepadankan dengan apa pun. Sebagai contoh, Az-Zubair bin Awwam Radhiyallahu ‘Anhu setelah Perang Uhud memiliki sekitar tujuh puluh luka di sekujur tubuhnya, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Luka-luka tersebut berasal dari sabetan pedang, tusukan tombak, dan tancapan anak panah. Ketangguhan fisik dan mental ini jauh melampaui gambaran pahlawan fiktif masa kini.
Keteladanan inilah yang harus ditanamkan kepada anak-anak agar mereka memiliki parameter kekuatan dan kesabaran yang benar, bukan sekadar mengagumi ilusi dalam layar kaca.
3. Adab Dan Penghormatan Kepada Para Sahabat
Langkah ketiga dalam mendidik anak mencintai sahabat adalah menanamkan adab dan sikap hormat. Orang tua perlu membiasakan anak agar selalu menyebut nama para sahabat dengan penuh penghormatan. Salah satu bentuk penghormatan tersebut adalah dengan mendoakan mereka.
Setiap kali menyebut nama sahabat, hendaknya disertakan doa keberkahan. Untuk sahabat laki-laki diucapkan Radhiyallahu ‘Anhu (semoga Allah meridhoinya), untuk sahabat perempuan Radhiyallahu ‘Anha, dan untuk dua orang sahabat (seperti Ibnu Abbas dan ayahnya) diucapkan Radhiyallahu ‘Anhuma. Doa ini merupakan ungkapan terima kasih dan bentuk balas budi karena melalui jasa merekalah ajaran Islam dapat sampai kepada umat saat ini.
Tanpa rekaman ingatan para sahabat, umat tidak akan mengetahui detail tata cara ibadah. Saat shalat di belakang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat memperhatikan setiap gerakan beliau dengan sangat saksama, mulai dari cara takbir, posisi telapak tangan, hingga detail sujud dan salam.
Tidak hanya urusan ibadah, para sahabat juga menceritakan detail kehidupan rumah tangga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, cara beliau berinteraksi dengan istri, serta metode beliau mendidik anak dan cucu. Oleh karena itu, sangat tidak beradab jika ada pihak yang merendahkan, mengkafirkan, atau menuduh para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tuduhan keji. Orang tua harus membentengi anak-anak dari pemahaman yang mendiskreditkan para sahabat.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan peringatan keras agar umatnya tidak menghina para sahabat. Beliau bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabatku. Andaikan salah seorang di antara kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, maka pahalanya tidak akan pernah sepadan dengan infaq para sahabat yang hanya satu mud (dua tangkup tangan) atau bahkan separuhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Gunung Uhud memiliki panjang sekitar delapan kilometer. Meskipun seseorang mampu berinfak ribuan ton emas sebesar gunung tersebut, nilai pahalanya tidak akan mencapai derajat pahala infak segenggam gandum atau kurma dari tangan seorang sahabat. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Islam yang dinikmati hari ini sampai melalui pengorbanan harta, nyawa, tenaga, dan pikiran para sahabat. Membela kehormatan para sahabat pada hakikatnya adalah menjaga kemurnian ajaran Islam itu sendiri. Semoga nilai-nilai ini dapat terpatri kuat dalam diri kita dan putra-putri kita. Allahumma Aamiin.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56054-mendidik-anak-mencintai-sahabat-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam/